Tags

, , ,


WARA

Sumber : http://www.duaberita.co/2013/08/01/arti-blusukan-versi-bang-wara/

Duaberita – Bakal Calon Anggota DPD RI Provinsi DKI Jakarta Periode 2014-2019 Wahyu Raharjo (@03saudara dan @bang wara , @bangwara2 akun twitter – red ) angkat bicara kata blusukan mulai populer digunakan media untuk menjelaskan kegiatan Joko Widodo yang kerap menyambangi masyarakat di tempatnya berada. Blusukan merupakan salah satu ciri khas kepemimpinan Jokowi. Kegiatan itu sering dilakukan saat menjadi Wali Kota Surakarta, dan masih bertahan saat menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Wahyu Raharjo (WARA)

Wahyu Raharjo (WARA)

Kesederhanaan bersikap, Bang Wara panggilan Wahyu Raharjo Bakal Calon DPD RI Provinsi DKI Jakarta, saya yakin dianjurkan dalam setiap agama sebaliknya sikap pongah dan sombong dilarang oleh agama. Kesederhaan seseorang walaupun menjadi pemimpin harus tetap dijaga. Sikap ini telah ditunjukkan oleh semua pemimpin di jaman Rasulullah hingga Khulafaur Rasyidin.
Sikap pemimpin yang selalu dekat dengan rakyat adalah ciri berikutnya bagi pemimpin yang mengaku ber Tuhan. Ini karena kepemimpinan bukan hadiah tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapanNya kelak. Seorang pemimpin tidak hanya cukup mendengar laporan bawahan akan kondisi rakyatnya tetapi harus melihat dengan kepala sendiri, mendengar dengan telinga sendiri. Itulah kenapa di jaman Umar Bin Khattab setiap malam berjalan menyusuri kota dan memastikan rakyatnya kenyang.

Dalam beberapa waktu belakangan, kata blusukan yang berasal dari bahasa Jawa menjadi sangat populer, menggambarkan kegiatan beberapa pejabat Negara, utamanya Gubernur DKI Jokowi, mengunjungi daerah kumuh, meninjau persiapan banjir, menyisiri bantaran sungai, bahkan masuk ke gorong-gorong.
Perlu Sinergi, Akan tetapi, pemahaman yang mendalam tentang sebuah permasalahan tidak secara otomatis akan menyelesaikan permasalahan tersebut. Diperlukan sebuah kerja bersama untuk menyelesaikan permasalahan organisasi, apalagi yang besar seperti pemerintah provinsi, karena permasalahannya selalu kompleks dan sering lintas wilayah.

Permasalahan DKI yang kasat mata dan menimbulkan kerugian besar seperti banjir pada 17 Januari 2013 lalu, dari sisi perdagangan saja mengakibatkan kerugian sebesar 20 triliun rupiah, belum lagi nilai harta benda masyarakat, tekanan psikologis, menurunnya produksi dan hilangnya kesempatan, bahkan menimbulkan korban jiwa.

Wahyu Raharjo

Wahyu Raharjo

Selain banjir musiman, DKI masih menghadapi problem kemacetan, masalah pendidikan dan pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, infrastuktur perkotaan baik listrik, air bersih maupun sampah dan permasalahan lain yang tidak kalah pentingnya. Tampaknya memang Jakarta menanggung beban yang terlalu besar sebagai ibu kota Negara, sekaligus pusat perdagangan, keuangan, pendidikan, industri, pariwisata dan bahkan militer, memicu pemikiran ulang untuk memindahkan ibukota negara ke luar Jakarta!

Jelas seorang Jokowi atau siapa pun tidak akan mampu menyelesaikan sendiri permasalahan Jakarta tanpa dukungan semua pihak, termasuk warga kota dan pemerintah daerah sekitar serta utamanya pemerintah pusat. Untuk memadukan kerja sama yang erat tersebut, tidak bisa lain harus dikembangkan sebuah strategi yang dijabarkan dalam ukuran dan capaian semua unit, bahkan setiap pegawai.

Kerja Bareng, Uraian singkat prinsip Balanced Scorecards di atas bukanlah untuk menuntun ke arah pemahaman yang komprehensif tentang hal tersebut, tetapi untuk mengingatkan bahwa perlu strategi untuk menyelesaikan persoalan besar seperti yang dihadapi DKI. Mudah-mudahan blusukan Gubernur Jokowi akan bermuara pada sebuah strategi yang komprehensif, sehingga dapat mensinergikan semua potensi yang ada untuk mengatasi permasalahan, bahkan menghasilkan sebuah kinerja yang lebih berwawasan ke depan.

Strategi yang disusun sekaligus untuk mengingatkan masyarakat bahwa sekecil apa pun peranan mereka terutama mendisiplinkan diri sebagai warga kota yang baik akan membawa pengaruh positif. Sisa sampah banjir 17 Januari yang konon berjumlah lebih dari 8.000 ton menjadi bukti bahwa masyarakat belum disiplin, membuang sampah sembarangan. Kemacetan Jakarta pun rasanya akan berkurang kalau masyarakat disiplin berlalu-lintas.

Strategic mapping akan mendorong para pejabat dan pegawai untuk lebih bertanggung jawab, termasuk memiliki data yang tepat tentang kondisi daerah sesuai bidang tanggung jawabnya masing-masing, melalui kewajiban memenuhi Key Performance Indicator. Dengan demikian, pemimpin tertinggi dapat cepat mengambil keputusan, organisasi menjadi lebih inovatif, kreatif dan antisipatif.

Khusus mengenai hal-hal yang memerlukan kerja sama antarprovinsi, sewajarnya pemerintah pusat turun tangan, mengingat permasalahan lintas provinsi memang menjadi kewenangan pemerintah pusat, dan pimpinan daerah sekitar diharapkan mendukungnya. Kita doakan Pak Jokowi tidak keblusuk, apalagi diblusukke. Selamat berjuang Pak Jokowi!
Dia memang berasal dari bahasa jawa, yang menurut Mas Cokro pengurus rumah al katum artinya kurang lebih “blesek”. Yaitu masuk ke tempat-tempat tertentu. Jika dalam bahasa Sunda mungkin “kukurusukan”.
Karena bisa saja blusukannya hanya dengan niat diekspose media, artinya pamer sesaat. Selagi ada pemilihan pejabat, apakah itu gubernur, wali kota atau nanti Pilpres 2014. Semua langsung blusukan, bikin janji-janji. Seakan bicara dari hati ke hati dengan rakyat. Padahal jika sudah terpilih janji-janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi.

Imam Ghazali dalam bukunya “At Tibrul Masbuk fin Nashihatil Mulk” (mutiara dalam nasihat-nasihat untuk para penguasa). Menuturkan bahwa ”Keadilan pemimpin satu hari lebih dicintai Allah daripada beribadah tujuh puluh tahun”.

Dan dalam pemahaman pemimpin sebagai wakil rakyat, khalifah Umar bin Kaththab menulis surat kepada bawahannya, yaitu Abu Musa Al Asy’ary: “Sesungguhnya wakil yang paling berbahagia adalah wakil yang rakyatnya merasa bahagia. Dan sesungguhnya wakil yang paling celaka adalah wakil yang rakyatnya dalam keadaan paling sengsara”. Bagaimana kondisi di Negara kita sekarang? Bagaimana para wakil rakyatnya? Bagaimana rakyatnya?

Dari Abu Ya’la bin Yassar berkata: ”Aku mendengar Rasulullah bersabda: Siapa saja yang ditakdirkan Allah menjadi seorang pemimpin akan tetapi ia menipu rakyatnya pada saat ia memimpin kemudian ia meninggal dunia (baik meninggal di saat memimpin atau setelah masa jabatannya habis) maka Allah mengharamkan syurga baginya (HR. Bukhari dan Muslim).”

Naudzubillah, semoga niat para pemimpin kita “blusukan” bukan cuma pamer sesa’at, bukan untuk dipilih karena dalam rangka kampanye, bukan juga untuk niatan-nitan yang lain kecuali untuk berupaya mensejahterakan rakyatnya. Aamiin. Bagaimana dengan kita semua?, ayo segera ikut blusukan, kukurusukan hehe.. Insya Allah
Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi Allah Swt adalah yang mengamalkannya. (/ali )